Kawasan Industri Tanjung Buton

Pengembangan Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB) diarahkan pada pengembangan tahap dasar dimana pada pengembangan ini di prioritaskan pada pengembangan pelabuhan dengan lahan tersedia seluas 300 ha, pembangkit listrik dengan lahan tersedia 10 ha, sarana air bersih dengan lahan tersedia 34 ha, dan industri penunjang migas dengan lahan tersedia seluas 285,90 ha dan industri pengolahan sawit 92 ha. Berikut adalah potensi dan peluang investasi di Kawasan Industri Tanjung Buton.

Gambar: Orientasi Kawasan Industri Tanjung Buton

Sumber: Masterplan Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB)

 

Pelabuhan Tanjung Buton

Arah Pengembangan

Pelabuhan tanjung buton diarahkan pada upaya pemenuhan kebutuhan industri yang berkembang di Kabuten Siak khususnya dan Provinsi Riau pada umumnya untuk mendapatkan infrastruktur pelabuhan yang sangat memadai. Dengan luas 300 ha yang sudah disiapkan Pemerintah Kabupaten Siak untuk kawasan pelabuhan, keberadaan Pelabuhan Tanjung Buton menjadi sangat strategis dan vital dimasa yang akan datang. Arah pengembangan pelabuhan melingkupi dermaga untuk bertambat, dermaga untuk pelaksanaan kegiatan bongkar muat barang dan peti kemas, gudang dan tempat penimbunan barang, alat bongkat muat, serta peralatan pelabuhan dan terminal peti kemas, curah cair, curah kering.

Kondisi Eksisting

Berdasarkan masterplan pengembangan Kawasan Industri Tanjung Buton, Rencana kawasan Industri Tanjung Buton terletak di Tanjung Buton, Kecamatan Sei Apit, Kabupaten Siak. Perairan pelabuhan terletak di Selat Selat Lalang yang dikelilingi oleh Selat Panjang, Selat Asam, Selat Bengkalis, dan Selat Padang. Oleh karenanya perairan terlindung dari gelombang dan didukung secara alamiah dengan kedalaman yang baik.

Lokasi Kawasan Pelabuhan terletak di 0o 56’ 20’’ Lintang Utara dan 102o 17’ 34” Bujur Timur, secara geografis dekat dengan garis Khatulistiwa. Saat ini lahan darat pelabuhan disediakan seluas 300 Ha yang letaknya bersatu dengan rencana Kawasan Industri Buton (KIB) seluas 5.000 Ha. Pengembangan kawasan ini secara terpadu akan saling menguatkan fungsi dengan rencana pengembangan pelabuhan. Alur pelayaran dari dan ke Pelabuhan Buton Alur melewati jalur Selat Lalang/Panjang – Selat Asam yang terhubung langsung dengan International Maritime Line di Selat Malaka. Di Selat Malaka terdapat 4 jalur pelayaran internasional yaitu Trans Pacific, Intra Asia, Europa-Far East, dan South East Asia-Australia. Pelabuhan Buton merupakan pelabuhan umum yang akan melayani lalulintas kontainer, CPO, BBM, Pulp & Paper, kebutuhan propinsi serta komoditas potensial lainnya yang kaya dimiliki oleh Propinsi Riau. gelombang yang terjadi di lokasi pelabuhan sangat kecil, dengan tinggi gelombang maksimum sebesar 0,98 m. Umumnya gelombang signifikan yang terjadi adalah 0,32 meter. Kondisi Alur Pelayaran Potensial untuk Pelabuhan Buton diantaranya; Kedalaman rata2: 16 m, Kedalaman paling besar 60 m (Selat Asam) , Tinggi gelombang exstreem maksimum : 0.98 m. Tinggi gelombang signifikan : 0.32 m.

Nama Pelabuhan : Pelabuhan Tanjung Buton

Jenis Pelabuhan : Pelabuhan Kargo

Alamat : Desa Mengkapan-Desa Sungai Rawa, Kec. Sungai Apit

Ukuran Dermaga dan Trestel

 

Konstruksi

Tiang Pancang Steel Pile

 

Lantai Beton

Dermaga

20 m x 100 m

Trestel

148 m x 12 m

Panjang Turap Keseluruhan

650 m

Kedalaman Kolam

-12 m

Panjang Alur

36 Mil (Selat Asam 26 Mil)

Kedalaman Alur

15 – 17 m (10.4 m di muara selat asam, Tg. Sekudi)

Lebar Alur

0.7 – 1.2 Mil

Posisi Koordinat

00o 56’ 14” LU

 

102o 17’ 48” BT

Ukuran Kapal Maksimum

25,000 DWT

Panjang Turap

650 m

Kondisi Alam

 

Tinggi Pasang

4.35 m

Tinggi Gelombang

0.98 m (Gel. Ekstrim) dan 0.32 m (Gel. signifikan)

Kecepatan Arus

Maksimum (m/s)

Rata-rata (m/s)

Tanjung Empal

0.682

0.452

Muara Sungai Siak

0.827

0.538

Teluk Belitung

0.795

0.548

sedimentasi

0.41 kg/m3 (saat pasang) dan 0.257 kg/m3 (saat surut)

Analisa Pasar

Pelabuhan Tanjung Buton adalah pelabuhan strategis dimasa datang karena letak pelabuhan yang sangat strategis. Disampaing itu kondisi pelabuhan Dumai yang sudah mengalami over capacity memunculkan kebutuhan mendesak hadirnya pelabuhan baru yang dapat menunjang aktifitas ekonomi di Provinsi Riau. Beberapa industri jenis berikut yang ada di provinsi Riau mempunyai potensi besar untuk untuk menggunakan pelabuhan Tanjung Buton, yaitu:

  1. Industri berbasis Kelapa Sawit Crude Palm Oil (CPO)
  2. Industri turunan dari hasil hutan
  3. Industri pulp dan turunannya
  4. Industri berbasis minyak bumi (petro kimia)
  5. Industri berbasis perkebunan kelapa (coconut)
  6. Industri turunan dari hasil karet
  7. Industri berbasis perikanan
  8. Industri penunjang migas
  9. Industri kecil dan menengah lainnya

Selain itu, menurut masterplan KITB, beberapa komoditas unggulan dalam lalulintas barang domestik dan luar negeri yang potensial menggunakan pelabuhan Tanjung Buton adalah sebagai berikut :

  1. Makanan dan pengolahannya (buah-buahan segar/diawetkan, kacang, sari buah-buahan, minyak hewani, tepung terigu, beras, dsb)
  2. Produk Perkebunan dan pengolahannya (karet, kakao, kopi, dsb)
  3. Produk Kayu (kayu bulat, kayu gergajian, plywood, veneers, papan palet, dsb)
  4. Produk Elektonika (komponen peralatan listrik, alat komunikasi, komponen mesin, dsb)
  5. Produk untuk industri besar dan pengolahannya (pupuk, semen,besi baja, seng, batu kapur, batu granit, batu bara, bahan kimia, dsb)

Proyeksi lalu lintas kapal, barang dan penumpang sampai tahun 2013

No Tipe Angkutan Proyeksi Tahun 2013
1 Jumlah Kedatangan Kapal 5100 call
2 arang Domestik 2.35 juta tons
3 Ekspor/ Impor 5.90 juta tons
4 CPO 2.21 juta tons
5 MIGAS 2.21 juta tons
6 Pulp & Papper 3 juta tons
7 Penumpang 495.000 orang

Sumber: Masterplan KITB diolah

Pembangkit Listrik untuk Kawasan Industri Tanjung Buton

Arah Pengembangan

Pembangkit Listrik untuk Kawasan Industri Tanjung Buton diarahkan pada upaya pemenuhan kebutuhan akan energi listrik yang akan digunakan pelabuhan, perkantoran dan industri-industri yang akan beroperasi di Kawasan Industri Tanjung Buton.

Kondisi Eksisting

Ketersediaan energi listrik yang ada saat ini di Kabupaten Siak baru sebatas upaya pemenuhan kebutuhan energi listrik untuk pemukiman, perkantoran dan industri yang ada di Kabupaten Siak dan belum diupayakan untuk memenuhi kebutuhan Kawasan Industri Tanjung Buton. Menurut Masterplan KITB, kebutuhan energi listrik di Kawasan Industri Tanjung Buton adalah sebesar 0,15 – 0,2 MVA/Ha dengan luas Kawasan Industri Tanjung Buton total adalah 5000 ha.

Gambar: Site Plan Kawasan Industri Tanjung Buton

Sumber: Masterplan Kawasan Industri Tanjung Buton (KITB)

 

Analisa Pasar

Kebutuhan akan pemenuhan energi listrik bagi Kawasan Industri Tanjung Buton dengan kebutuhan sebesar 0,15 – 0,2 MVA/Ha dengan luas Kawasan Industri Tanjung Buton total adalah 5000 ha dengan demikian berarti dibutuhkan energi listrik sebesar 750-1000 MVA yang salah satunya bisa bersumber dari energi diesel. Pada tahap awal potensi ekonomis pasar energi listrik akan dialokasikan untuk pemenuhan kebutuhan pelabuhan dengan lahan tersedia seluas 300 ha, pembangkit listrik dengan lahan tersedia 10 ha, sarana air bersih dengan lahan tersedia 34 ha, industri sawit seluas 92 ha dan industri penunjang migas dengan lahan tersedia seluas 285,90 ha maka dibutuhkan enegri listrik sebesar 500 MVA.

Industri Penunjang Migas

Arah Pengembangan

Industri Penunjang migas diarahkan pada upaya pemenuhan kebutuhan peralatan penunjang migas seperti perpipaan, REDA Pump dan industri Rig.

Kondisi Eksisting

Sejauh ini pemenuhan kebutuhan akan peralatan penunjang migas belum mampu diperolah dari dalam provinsi Riau. Pemerintah Kabupaten Siak berencana mengembangkan industri penunjang migas seperti seperti perpipaan, REDA Pump dan industri Rig di Kawasan Industri Tanjung Buton dengan luas lahan yang sudah disiapkan seluas 285,90 ha.

Analisa Pasar

Kebutuhan akan peralatan penunjang bagi migas di Riau didukung oleh fakta bahwa provinsi Riau memiliki wilayah tambang yang luas dan operasi perusahaan tambang yang besar. Wilayah pertambangan Migas di provinsi Riau, tersebar di 8 (delapan) kabupaten. Sebagian besar wilayah kabupaten yang menjadi daerah penghasil Migas di Riau adalah kabupaten – kabupaten yang berada di wilayah Riau bagian pesisir, yaitu Bengkalis, Siak, Kepulauan Meranti, Rokan Hilir.

Wilayah Pertambangan Migas Provinsi Riau

No Kabupaten/Kota Lokasi Eksplorasi
1 Kabupaten Bengkalis Bekasap, Kota Batak, dan Duri
2 Kabupaten Siak Minas, Libo dan Zamrud, Sungai Apit, Sabak Auh.
3 Kabupaten Rokan Hilir Rantau Bais dan Ujung Tanjung
4 Kabupaten Kampar Petapahan dan tapung
5 Kabupaten Rokan Hulu Tandun
6 Kabupaten Pelalawan Kerumutan
7 Kabupaten Indragiri Hulu Lirik
8 Kabupaten Kepulauan Meranti Selat Panjang

Secara rinci wilayah ekploitasi perusahaan (KKKS) di 8 (delapan) Kabupaten di Riau adalah sebagai berikut : 

KKKS dan Wilayah Kerja (WK) Di Riau (Produksi)

No Kabupaten/Kota Kontraktor / KKKS Jenis Minyak
1 Kab. Bengkalis BOB. PT. BSP - Pertamina Hulu SLC
2 Chevron Pasifict Indonesia (Rokan) Duri
3 Kab. Indragiri Hulu Medco E&P Indonesia - S&C Sumatera Lirik
4 EBEP-Lirik Lirik
5 Kab. Kampar BOB PT.BSP - Pertamina Hulu SLC
6 Chevron Pasific Indonesia SLC
7 Chevron Texaco Siak SLC
8 SPE West Kampar West Kampar
9 SPR Langgak SLC
10 Kab. Meranti Kondor Petrolium SA Lalang
11 Kab.Pelalawan Medco E&P Indonesia - S&C Sumatera Lirik
12 UBEP. Lirik Lirik
13 Kab. Rokan Hilir Chevron Pasifik Indonesia Duri & SLC
14 Chevron texaco Siak SLC
15 Kab. Rokan Hulu Chevron Pasifict Indonesia SLC
16 SPE West Kampar West Kampar
17 SPR Langgak SLC
18 Kab. Siak BOB PT. BSP - Pertamina Hulu SLC
19 Chevron Pasifik Indonesia SLC
20 Kondur Petrolium SA Lalang
21 Petroselat. Ltd Selat panjang

Sumber: BP Migas 2012

Industri Kelapa Sawit

Arah Pengembangan

Sebagai komoditi hasil perkebunan yang potensial di Kabupaten Siak, hasil perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Siak diarahkan pada produk turunan dari kelapa sawit seperti CPO dan produk jadi lainnya.

Kondisi Eksisting

Kawasan Industri Tanjung Buton menyediakan 92 ha lahan untuk pendirian pabrik kelapa sawit. Kabupaten Siak memiliki potensi hasil perkebunan kelapa sawit yang sangat besar. Sampai dengan agustus tahun 2014, luas perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Siak berjumlah 210.989 hektar dengan produktifitas 2,5-3,8 ton/hektar/tahunnya. Sejauh ini pemanfaatan hasil perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Siak masih berupa pengolahan dalam bentuk CPO. Menurut data dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Siak, jumlah Pabrik Kelapa Sawit (PKS) yang beroperasi baru berjumlah 20 PKS sedangkan kebutuhan PKS berkisar antara 30-32 PKS. Sejauh ini konsentrasi PKS masih berada di Kecamatan Kandis sebanyak 9

PKS, Kecamatan Tualang 4 PKS, Kecamatan Koto Gasib 2 PKS, Kecamatan Dayun 2 PKS, Kecamatan Minas 1 PKS, Kecamatan Lubuk Dalam 1 PKS dan Kecamatan Siak 1 PKS.

Analisa Pasar

Kebutuhan akan bahan pangan di dunia terus meningkat. Kehadiran hasil perkebunan kelapa sawit yang dapat diolah menjadi bahan pangan akan terus dibutuhkan oleh konsumen. Selain orientasi ekspor dalam bentuk CPO, pasar nasional maupun lokal merupakan panga pasar yang masih sangat cerah untuk pemasaran produk makanan hasil dari olahan kelapa sawit.

GAMBAR PROMOSI TOUR DE SIAK DAN EVENT PENTING LAINNYA