Pertanian dan Tanaman Pangan

Salak Pondoh

Arah Pengembangan

Keberadaan salak pondoh di Kecamatan Dayun diarahkan pada upaya investasi perluasan perkebunan salak pondoh untuk konsumsi dan salak pondoh untuk diolah menjadi produk makanan seperti keripik, syrup, dodol, dan kue dari salak pondoh seperti brownies.

Kondisi Eksisting

Salak pondoh berkembang cukup baik di kecamatan Dayun. Pada tahun 2013 dengan luas tanam mencapai 31 hektar, produksinya mencapai 140 ton. Salak Pondoh cukup memiliki prospek untuk dikembangkan di daerah ini karena pengembangan salak pondoh memiliki ketersediaan lahan yang cukup luas sebab selama ini masyarakat di Kecamatan Dayun menanam salak pondoh dengan memanfaatkan lahan perkebunan sawit yang mereka miliki (tumpang sari).

Berdasarkan studi yang dilakukan Sari, 2011 menunjukan bahwa Profitabilitas usaha salak pondoh di Kecamatan Dayun Kabupaten Siak berdasarkan rentabilitas modal sendiri diperoleh rata-rata 39,34% pertahun dan Petani salak pondoh di Kecamatan Dayun Kabupaten Siak dapat mengembalikan modal yang telah digunakan dalam jangka waktu rata-rata 2 tahun. Sedangkan studi yang dilakukan Nuryanti, 2010 di Kecamatan Dayun menunjukkan bahwa Rata-rata biaya investasi yang dikeluarkan oleh petani salak pondoh yang memiliki luas lahan 1 Ha yaitu sebesar Rp. 14.315.000,-/tahun sedangkan rata-rata pendapatan kotor yang diperoleh yaitu sebesar Rp. 50.000.000,-/tahun dan ratarata total biaya produksi yang dikeluarkan yaitu sebesar Rp. 14.815.000,-/tahun sehingga diperoleh hasil pendapatan bersihnya yaitu sebesar Rp. 35.185.000,- /tahun.

Analisa Pasar

Salak pondoh yang dihasilkan dari Kecamatan Dayun saat ini dipasarkan ke berbagai daerah di Kabupaten Siak. Disamping itu, wisatawan yang datang ke Kabupaten Siak terutama saat Tour The Siak beberapa tahun terakhir merupakan potensi pasar yang menjanjikan bagi penjualan salak pondoh. Peluang pasar yang lain adalah daerah-daerah di luar Kabupaten Siak. Disamping itu, jika dikembangkan produk olahan dari salak pondoh dari daerah ini akan memiliki prospek untuk dipasarkan ke daerah-daerah di Kabupaten Siak, kepada pengunjung wisata yang datang ke Kabupaten Siak maupun ke daerah-daerah lain diluar Kabupaten Siak seperti ke Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau.

Durian

Arah Pengembangan

Pengembangan durian di Kecamatan Mempura diarahkan pada pengembangan perkebunan durian untuk memenuhi kebutuhan pasar di Kabupaten Siak maupun Kabupaten lain di Riau, wisatawan yang datang ke Kabupaten Siak maupun dikembangkan untuk diolah menjadi bahan makanan seperti lempuk durian, keripik biji durian, pancake durian dan sebagainya.

Kondisi Eksisting

Mempura dikenal masyarakat sebagai daerah penghasil durian di Kabupaten Siak. Produksi Durian Mempura pada tahun 2013 mencapai 93 ton dengan luas panen 32 hektar. Durian bisa dikembangkan di Kecamatan Mempura dengan cara memanfaatkan lahan yang tersedia. Menurut Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Siak, saat ini masih tersedia lahan sementara tidak diusahakan seluas 211 hektar yang tersebar di seluruh Kecamatan Mempura.

Analisa Pasar

Durian yang dihasilkan dari Kecamatan Mempura saat ini dipasarkan ke berbagai daerah di Kabupaten Siak. Disamping itu, wisatawan yang datang ke Kabupaten Siak terutama saat Tour The Siak beberapa tahun terakhir merupakan potensi pasar yang menjanjikan bagi penjualan durian. Peluang pasar yang lain adalah daerah-daerah di luar Kabupaten Siak. Disamping itu, jika dikembangkan produk olahan dari durian dari daerah ini akan memiliki prospek untuk dipasarkan ke daerah-daerah di Kabupaten Siak, kepada pengunjung wisata yang datang ke Kabupaten Siak maupun ke daerah-daerah lain diluar Kabupaten Siak seperti ke Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau.

Nanas

Arah Pengembangan

Sebagai komoditi buah-buahan yang potensial industri pengolahan nenas diarahkan kepengembangan produk turunan dari nanas.

Kondisi Eksisting

Kabupaten Siak memiliki potensi tanaman nanas yang sangat besar. Pada tahun 2013 populasi tanaman nanas mencapai 5.097.151 rumpun dengan luas 254,86 ha. Produksi nenas pada tahun 2013 di kabupaten Siak mencapai 4.016,65 ton. 99% potensi nanas terdapat di kecamatan Sungai Apit. Produktivitas nanas pertahun pada tahun 2013 mencapai 180 kw/ha.

Analisa Pasar

Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat baik dikabupaten Siak maupun di Kabupaten lain di Riau, menyebabkan permintaan pasar nenas cenderung meningkat, terutama seiring dengan semakin banyaknya nanas dipergunakan untuk kebutuhan keripik nanas dan campuran bahan pangan lainnya. Harga buah nanas ditingkat petani saat ini mencapai Rp. 1500/ buah. Potensi pemasaran buah nanas sejauh ini meliputi Kabupaten Kampar, Pekanbaru, Padang (Sumatera Barat) hingga Medan (Sumatera Utara).

Padi

Arah Pengembangan

Arah pengembangan pertanian padi diarahkan pada upaya ekstensifikasi dan intensifikasi untuk pemenuhan kebutuhan beras di Kabupaten Siak. Untuk ekstensifikasi padi Pemerintah Kabupaten Siak akan memfasilitasi ekstensifikasi padi di Kecamatan Sungai Apit tepatnya di Desa Teluk Lanus.

Kondisi Eksisting

Pertanian padi terdapat di beberapa kecamatan diantaranya di Kecamatan Bungaraya seluas 4.683 hektar. Di Kecamatan Sungai Apit seluas 541 hektar. Di Kecamatan Sabak Auh 1.777 hektar dan di Kecamatan Sungai Mandau seluas 1.627 hektar. Untuk daerah Bungaraya pertanian padi tidak bisa melakukan program ekstensifikasi secara maksimal untuk masa yang akan datang dikarenakan lahan yang tersedia untuk pengembangan pertanian padi dikawsan ini minim. Oleh sebab itu alternatif peningkatan nilai ekonomi padi di daerah ini adalah dengan melakukan intensifikasi melalui kerjasama dengan patani dalam hal permodalan dan pengelolaan budidaya padi yang baik sehingga diperoleh hasil panen maksimal. Untuk di Kecamatan Sungai Apit

Analisa Pasar

Berdasarkan hasil studi Cepari, 2011 terhadap patani padi di Kecamatan Bungaraya Kabupaten Siak diketahui bahwa pendapatan rata-rata yang diperoleh para petani di Kecamatan Bungaraya mencapai angka Rp. 3.256.596 perbulannya, angka tersebut jauh diatas Upah Minimun Regional yang ditetapkan oleh pemerintah Kabupaten Siak yakni Rp. 1.186.000 perbulan pada tahun 2011. Kebutuhan beras untuk Kabupaten Siak terus meningkat sementara produksi padi belum bisa memnuhi kebutuhan tersebut. Berikut tabel kebutuhan padi di Kabupaten Siak.

Pisang

Arah Pengembangan

Potensi pisang yang besar di Kabupaten Siak berpeluang untuk diolah menjadi bahan baku produk olahan makanan dari pisang seperti bahan roti, kue, dan bahan makanan berbahan dasar pisang lainnya.

Kondisi Eksisting

Pisang bisa dikembangkan menjadi peluang investasi di Kabupaten Siak. Produksi Pisang terdapat di Kecamatan Tualang dengan luas lahan 17 hektar dan produksi 667 ton pada tahun 2013, di kecamatan Lubuk Dalam dengan luas 8 hektar dan produksi sebesar 170 ton pada tahun 2013 dan di Kecamatan Pusako dengan luas 23 hektar dan produksi sebesar 457 ton pada tahun 2013.

Analisa Pasar

Pertumbuhan penduduk Kabupaten Siak dan kebutuhan konsumsi masyarakat yang terus meningkat dan wisatawan yang datang ke Kabupaten Siak merupakan potensi pasar untuk mengembangankan produk makanan berbahan baku pisang. Disamping itu tingginya trafic kunjungan ke Pekanbaru sebagai ibukota provinsi Riau merupakan pasar potensial untuk memasarkan produk makanan berbahan baku pisang tersebut ke Pekanbaru.

GAMBAR PROMOSI TOUR DE SIAK DAN EVENT PENTING LAINNYA